Kamis, 08 Desember 2016

Tugas UTS Bahasa Indonesia


SKIZOFRENIA

Makalah

Disusun Untuk Memenuhi Syarat Ujian Tengah Semester (UTS) pada Mata Kuliah Bahasa Indonesia

Dosen : Drs. Ramlan A. Gani, M.A.



Oleh :

Muhammad Hanif Alman Bimo

11161010000095

https://almanbimo98.blogspot.co.id/






PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

2016

A.   Pendahuluan
Dewasa ini, Dunia khususnya Indonesia semakin banyak memiliki permasalahan hidup yang harus diselesaikan dari mulai yang sepele hingga yang paling rumit. Dari mulai ekonomi, sosial, budaya, hingga yang menyangkut kesehatan diri dan masyarakat.

Kesehatan kita seringkali terganggu oleh beberapa gangguan dalam organ atau sistem organ yang disebabkan berbagai macam penyakit. Penyakit itu sendiri dibagi menjadi penyakit menular (TBC, Demam berdarah, Tifus, Difteri) dan penyakit tidak menular (Scizofrenia, Epilepsi, Psikopat).

Dalam makalah ini akan dibahas penyakit tidak menular jiwa yang seringkali dapat mengganggu aktivitas kita, yaitu Skizofrenia.


B.     Pengertian
Menurut para ahli pengertian mengenai Skizofrenia yaitu “Kata Skizofrenia berasal dari kata Yunani scizein (terbelah) dan phren (batin). Jikalau diterjemahkan secara gamblang berarti “pikiran yang koyak atau luluh”. (Temes, 2002)

C.   Penyebab Penyakit
1.      Teori Ibu Hamil
Kemungkinan ada sesuatu yang salah semasa janin berada di dalam rahim, tepatnya di bagian depan yang berkembang secara abnormal selama masa kehamilan.

Menurut (LaMantia, 1999), Skizofrenia dipercaya merupakan akibat dari tiga bulan pertama kehamilan yang tidak normal. Otak janin saat itu terganggu sesuatu yang membuat perkembangan normalnya berhenti.

2.      Teori Virus
Berdasarkan penelitian yang dilakukan Psikiater E. Fuller Torrey dari Fakultas Kedokteran Universitas John Hopkins di Baltimore pada tahun 1955, virus berperan dalam penyebab skizofrenia, dan juga mungkin dalam situasi tertentu ditularkan oleh kucing.

3.      Teori Usia Ayah
Dalam (Malaspina, 2001), periset yang memeriksa catatan kelahiran bayi antara 1964 dan 1976 mengatakan bahwa makin tua usia seorang ayah dari anak, semakin besar kemungkinan ia memiliki anak yang menderita skizofernia.

4.      Teori Gen
Dalam (Pulver, 1998), dilakukan penelitian terhadap 100 keluarga telah berlangsung selama 15 tahun. Dari penelitian itu ditemukan bahwa sejenis DNA pada kromosom yang disebut kromosom 13 menyebabkan seseorang rentan terhadap skizofrenia.


5.      Teori Struktur Otak
Dalam (Temes, 2002) dijelaskan bahwa jika seseorang memiliki skizofrenia, gambar otaknya pada tes MRI, CT scan, PET scan, dan SPECT scan akan berbeda dengan otak yang sehat.

D.   Gejala
1.      Isolasi
Penderita skizofrenia cenderung lebih suka mengisolasi diri. Ia menganggap tak ada seorangpun yang mengerti betapa putus asanya diri para penderita.

2.      Sering mendengarkan suara-suara aneh

3.      Pikiran kacau
Penderita skizofrenia seolah-olah sedang tidak mengendalikan pikirannya sendiri. Penderita merasa ada begitu banyak pikiran dan sel baru yang tertanam di dalam otak dan tubuh penderita.

4.      Komunikasi yang buruk
Penderita merasa kesulitan mengeluarkan pikiran-pikirannya. Dan sulit membuat orang lain memahami perkataan penderita.

5.      Perilaku yang Kacau
Ketika penyakit ini menyerang, penderita mungkin mengalami kesulitan melakukan kegiatan sehari-hari.



6.      Kehidupan Rahasia
Kehidupan sehari-hari  penderita mengerikan, tetapi juga istimewa dan magis. Neil Wolf, yang telah dirawat di rumah sakit 40 kali karena penyakitnya mengalami fenomena tersebut. Ia bercerita:
Saya merasa bahagia ketika saya gila.... Kegembiraan yang luar biasa--- Anda pikir Andalah orang yang paling pintar dan paling berkuasa di dunia.... tetapi, penyakit ini menghancurkan kehidupan saya. Anda tahu, tadinya saya akan memiliki pekerjaan dan keluarga. Kegilaan adalah kegembiraan terbesar dalam kehidupan saya, dan juga neraka terburuk yang bisa Anda bayangkan (Shorto, 2000).

E.   Tindakan Preventif
1.      Perbaikan pola asuh
Pengasuhan yang buruk oleh orangtua tidak dapat mencegahnya, namun pengasuhan yang baik mampu membuat penyakit ini lebih mudah ditahan. (Temes, 2002)

F.    Tindakan Kuratif
1.      Pembedahan Otak
Dalam (Temes, 2002) disebutkan bahwa pada pertengahan 1900-an, lobotomy dianjurkan sebagai solusi skizofrenia. Proses operasi ini dilakukan dengan membuang bagian otak tertentu.

2.      ECT (Terapi elektrokonvulsi)
Dalam (Ibrahim, 1990), dikatakan bahwa terapi konvulasi dapat memperpendek serangan skizofrenia dan mempermudah kontak dengan penderita. Namun tidak dapat mencegah serangan selanjutnya.

3.      Vitamin
Dalam (Temes, 2002), meminum vitamin dan mineral khusus dalam dosis yang sangat besar dapat menghilangkan gejala-gejala skizofrenia.

G.    Penutup
Pada dasarnya skizofrenia memang penyakit kejiwaan yang sulit dicegah, penyakit ini tidak menular sehingga tidak ada alasan untuk menghindari penderita penyakit ini.

Tidak banyak memang upaya untuk mencegah penyakit ini. Yaitu, dengan memperbaiki pola asuh keluarga agar tidak adanya kerusakan pada otak.
Meskipun demikian, pengobatan secara kuratif dewasa ini sudah mengalami perkembangan pesat sehingga diharapkan bisa menjadi solusi.

Dengan membuat makalah ini, penulis berharap tidak adanya lagi sikap diskriminatif terhadap penderita, senantiasa memberikan dorongan secara moril dan materil agar penderita lekas sembuh, serta selalu waspada akan hal-hal yang dapat menimbulkan penyakit ini di masyarakat.


H.    Daftar Pustaka
Ibrahim, Ayub Sani.1990.Skizofrenia/Gila dengan Kepribadian yang Centang Perenang.Jakarta:Penerbit IND-HILL-CO.
LaMantia, A.1999.”schizophrenia and early brain development” dalam Biological Psychiatry, 46, 19-30.
Malaspina, D.2001.”Advancing paternal age and the risk of schizophrenia” dalam The Archives of General Psychiatry, 58 (4), 361-367
Pulver, A. 1998.  “DNA analysis and schizophrenia” dalam Nature Genetics, 20, 70-73.
Shorto, R.2000.Saints and Madmen.New York:Henry Holt & Co.
Temes, Roberta.Hidup Optimal dengan Skizofrenia.Terjemahan Tanto Hendy.Jakarta:PT Bhuana Ilmu Populer.2011.