SKIZOFRENIA
Makalah
Disusun
Untuk Memenuhi Syarat Ujian Tengah Semester (UTS) pada Mata Kuliah Bahasa
Indonesia
Dosen
: Drs. Ramlan A. Gani, M.A.
Oleh
:
Muhammad Hanif Alman
Bimo
11161010000095
https://almanbimo98.blogspot.co.id/
PROGRAM STUDI KESEHATAN
MASYARAKAT
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN
ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ISLAM
NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
2016
A.
Pendahuluan
Dewasa ini, Dunia
khususnya Indonesia semakin banyak memiliki permasalahan hidup yang harus
diselesaikan dari mulai yang sepele hingga yang paling rumit. Dari mulai
ekonomi, sosial, budaya, hingga yang menyangkut kesehatan diri dan masyarakat.
Kesehatan kita seringkali
terganggu oleh beberapa gangguan dalam organ atau sistem organ yang disebabkan
berbagai macam penyakit. Penyakit itu sendiri dibagi menjadi penyakit menular (TBC, Demam berdarah,
Tifus, Difteri) dan penyakit tidak
menular (Scizofrenia, Epilepsi, Psikopat).
Dalam makalah ini akan
dibahas penyakit tidak menular jiwa yang seringkali dapat mengganggu aktivitas
kita, yaitu Skizofrenia.
B.
Pengertian
Menurut
para ahli pengertian mengenai Skizofrenia yaitu “Kata Skizofrenia berasal dari kata Yunani scizein (terbelah) dan phren
(batin). Jikalau diterjemahkan secara gamblang berarti “pikiran yang koyak atau
luluh”. (Temes, 2002)
C.
Penyebab Penyakit
1.
Teori
Ibu Hamil
Kemungkinan ada sesuatu yang salah
semasa janin berada di dalam rahim, tepatnya di bagian depan yang berkembang
secara abnormal selama masa kehamilan.
Menurut (LaMantia, 1999), Skizofrenia
dipercaya merupakan akibat dari tiga bulan pertama kehamilan yang tidak normal.
Otak janin saat itu terganggu sesuatu yang membuat perkembangan normalnya
berhenti.
2.
Teori
Virus
Berdasarkan penelitian yang dilakukan
Psikiater E. Fuller Torrey dari Fakultas Kedokteran Universitas John Hopkins di
Baltimore pada tahun 1955, virus berperan dalam penyebab skizofrenia, dan juga
mungkin dalam situasi tertentu ditularkan oleh kucing.
3.
Teori
Usia Ayah
Dalam (Malaspina, 2001), periset yang
memeriksa catatan kelahiran bayi antara 1964 dan 1976 mengatakan bahwa makin
tua usia seorang ayah dari anak, semakin besar kemungkinan ia memiliki anak
yang menderita skizofernia.
4.
Teori
Gen
Dalam (Pulver, 1998), dilakukan
penelitian terhadap 100 keluarga telah berlangsung selama 15 tahun. Dari
penelitian itu ditemukan bahwa sejenis DNA pada kromosom yang disebut kromosom
13 menyebabkan seseorang rentan terhadap skizofrenia.
5.
Teori
Struktur Otak
Dalam (Temes, 2002) dijelaskan bahwa
jika seseorang memiliki skizofrenia, gambar otaknya pada tes MRI, CT scan, PET
scan, dan SPECT scan akan berbeda dengan otak yang sehat.
D.
Gejala
1.
Isolasi
Penderita
skizofrenia cenderung lebih suka mengisolasi diri. Ia menganggap tak ada
seorangpun yang mengerti betapa putus asanya diri para penderita.
2.
Sering mendengarkan suara-suara aneh
3.
Pikiran kacau
Penderita
skizofrenia seolah-olah sedang tidak mengendalikan pikirannya sendiri. Penderita
merasa ada begitu banyak pikiran dan sel baru yang tertanam di dalam otak dan
tubuh penderita.
4.
Komunikasi yang buruk
Penderita
merasa kesulitan mengeluarkan pikiran-pikirannya. Dan sulit membuat orang lain
memahami perkataan penderita.
5.
Perilaku yang Kacau
Ketika penyakit
ini menyerang, penderita mungkin mengalami kesulitan melakukan kegiatan
sehari-hari.
6.
Kehidupan Rahasia
Kehidupan
sehari-hari penderita mengerikan, tetapi
juga istimewa dan magis. Neil Wolf, yang telah dirawat di rumah sakit 40 kali
karena penyakitnya mengalami fenomena tersebut. Ia bercerita:
Saya merasa
bahagia ketika saya gila.... Kegembiraan yang luar biasa--- Anda pikir Andalah
orang yang paling pintar dan paling berkuasa di dunia.... tetapi, penyakit ini
menghancurkan kehidupan saya. Anda tahu, tadinya saya akan memiliki pekerjaan
dan keluarga. Kegilaan adalah kegembiraan terbesar dalam kehidupan saya, dan
juga neraka terburuk yang bisa Anda bayangkan (Shorto, 2000).
E.
Tindakan Preventif
1. Perbaikan
pola asuh
Pengasuhan yang buruk oleh orangtua
tidak dapat mencegahnya, namun pengasuhan yang baik mampu membuat penyakit ini
lebih mudah ditahan. (Temes, 2002)
F.
Tindakan Kuratif
1. Pembedahan
Otak
Dalam (Temes, 2002) disebutkan bahwa
pada pertengahan 1900-an, lobotomy dianjurkan
sebagai solusi skizofrenia. Proses operasi ini dilakukan dengan membuang bagian
otak tertentu.
2. ECT
(Terapi elektrokonvulsi)
Dalam (Ibrahim, 1990), dikatakan bahwa
terapi konvulasi dapat memperpendek serangan skizofrenia dan mempermudah kontak
dengan penderita. Namun tidak dapat mencegah serangan selanjutnya.
3. Vitamin
Dalam (Temes, 2002), meminum vitamin dan
mineral khusus dalam dosis yang sangat besar dapat menghilangkan gejala-gejala
skizofrenia.
G.
Penutup
Pada
dasarnya skizofrenia memang penyakit kejiwaan yang sulit dicegah, penyakit ini
tidak menular sehingga tidak ada alasan untuk menghindari penderita penyakit ini.
Tidak
banyak memang upaya untuk mencegah penyakit ini. Yaitu, dengan memperbaiki pola
asuh keluarga agar tidak adanya kerusakan pada otak.
Meskipun
demikian, pengobatan secara kuratif dewasa ini sudah mengalami perkembangan
pesat sehingga diharapkan bisa menjadi solusi.
Dengan
membuat makalah ini, penulis berharap tidak adanya lagi sikap diskriminatif terhadap
penderita, senantiasa memberikan dorongan secara moril dan materil agar
penderita lekas sembuh, serta selalu waspada akan hal-hal yang dapat
menimbulkan penyakit ini di masyarakat.
H.
Daftar
Pustaka
Ibrahim,
Ayub Sani.1990.Skizofrenia/Gila dengan
Kepribadian yang Centang Perenang.Jakarta:Penerbit IND-HILL-CO.
LaMantia,
A.1999.”schizophrenia and early brain development” dalam Biological Psychiatry,
46, 19-30.
Malaspina,
D.2001.”Advancing paternal age and the risk of schizophrenia” dalam The Archives of General Psychiatry, 58
(4), 361-367
Pulver,
A. 1998. “DNA analysis and
schizophrenia” dalam Nature Genetics, 20, 70-73.
Shorto, R.2000.Saints and Madmen.New York:Henry Holt
& Co.
Temes,
Roberta.Hidup Optimal dengan Skizofrenia.Terjemahan
Tanto Hendy.Jakarta:PT Bhuana Ilmu Populer.2011.
